Misbah Zulfa Elizabeth, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang berhasil mendapat gelar guru besar dalam bidang Ilmu Antropologi di UIN Walisongo Semarang.
Eliz mengatakan motivasi memperoleh gelar guru besar ini yaitu bisa menjadi akademisi yang baik.
”Bisa menjadi sejarawan yang baik,” katanya, Jum’at (22/9/2023).
Prasyarat pengajar ini memiliki publikasi, arena tempat mengajar dan mempunyai kapasistas untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Agar aspek-aspek tridharma ini dapat dikembangkan dengan sebaik-baiknya.
Baca Juga: TPA Jatibarang Kembali Terbakar, Kandang Ludes, Sejumlah Sapi Berlarian
”Prasyarat pengajar itu dapat memiliki publikasi, memiliki arena tempat ia mengajar dan juga mempunyai kapasitas untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Nah ini, harus tergambar supaya aspek-aspek tridharma itu bisa dikembangkan dengan sebaik-baiknya,” bebernya.
Ia merasa senang dengan mengucap syukur bisa memperoleh gelar guru besar ini, dimana sejak tahun 2020 sudah mengajukan.
”Alhamdulillah dengan ucapan terima kasih ibu bisa memperoleh gelar ini, karena sudah lama dari tahun 2020 mengajukan,” ungkapnya.
Eliz mengungkapkan alasan untuk melanjutkan memperoleh gelar guru besar atau jabatan dari seorang sejarawan.
Baca Juga: Sinergitas PPL, Pemdes dan Poktan, Hidupkan Kembali Lahan Pertanian di Demak
”Alasan melanjutkan guru besar itu jabatannya. Jadi jabatan dari seorang sejarawan diawali dari asisten ahli, lektor kepala, guru besar. Dan seharusnya setiap sejarawan bisa melakukan itu. Dan sekarang untuk guru besar harus doctor terlebih dahulu,” jelasnya.
”Karena keilmuan, kemudian menyampaikan dan mengajak mahasiswa untuk berorientasi pada akademik. Nah, tentu saja ini menjadi tanggung jawab investor sebenarnya. Orientasi sejarawan mestinya ya sampai guru besar. Keilmuannya karena mengikuti strata jabatan. Menjadi autoritatif secara keilmuan,” ungkapnya.
Eliz menjelaskan tantangan yang dihadapi dalam memperoleh gelar guru besar. Eliz menceritakan dirinya sudah submit guru besar itu sejak tahun 2020.
Baca Juga: Polda Jateng Ajak Masyarakat Waspadai Paham Radikal Jelang Pemilu 2024
“tahun 2017 tapi ibu kan baru lulus S3 pada tahun 2015. Sementara ada syarat bahwa untuk submit S3 minimal 3 tahun. Tapi tahun 2019 jurnal ibu itu continue. Nah ibu gantikan lagi continue satu lagi jalan di tahun 2020. Jadi tahun 2020 itu ibu ajukan dari ques satu di internasional. Nah terbitnya desember 2019. Sudah disidangkan senat akhirnya berangkat ke Jakarta ternyata sampai akhirnya tidak ada sidang,” kisahnya.
”Jurnal dihentikan pada bulan September sehingga ibu harus lebih lanjut harus ganti lagi. Ganti lagi dan diterima pada tahun 2021 bulan maret kayaknya itu sudah diterima. Diterima tahun 2021 dinyatakan akan terbitnya pada tahun 2023 bulan Agustus. Lama sekali sampai dua tahun lebih. Tapi ibu punya artikel yang lain,” jelasnya.
Baca Juga: PSIS Semarang Berambisi Raih Poin Penuh Saat Jamu PS Barito Putera
Eliz menyebutkan beberapa jurnal yang pernah ia bahas dalam penelitian antara lain tentang identitas konversi cina muslim, menikah awal, gender di kalangan TKW kemudian yang segera terbit di tahun 2023 tentang konflik gender di partai politik, serta Gender pasca Covid-19.
Eliz mengayakan salah satu syarat menjadi guru besar harus memiliki artikel jurnal yang bereputasi scopus. Ia juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa bahwa struktur pengugasan yang ada sekarang merupakan modal bagi mahasiswa untuk dapat mengisi karir akademik.
”Mahasiswa dengan struktur pengugasan yang ada sekarang sebenarnya merupakan modal bagi siswa untuk dapat menempati karir di akademik sebagai guru besar. Karena di FISIP khususnya, metode penelitian kami berorientasi pada arah metode penulisan internasional,” tutupnya.
