Ruang digital yang semakin melekat dalam kehidupan generasi muda membawa dua wajah sekaligus: membuka akses informasi dan pengetahuan, tetapi juga menciptakan ruang baru bagi kejahatan, manipulasi media, serta penyebaran informasi yang menyesatkan.

Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam Studium Generale Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UIN Walisongo Semarang bertajuk “Pemuda dan Kejahatan Digital di Era Disrupsi” yang digelar di Gedung Teater Rektorat Lantai 4 UIN Walisongo Semarang, Rabu (23/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti civitas akademika FISIP, mahasiswa baru FISIP UIN Walisongo serta mahasiswa umum. Forum akademik ini menghadirkan dua akademisi (UKM dan UNNES) dengan latar belakang keilmuan yang relevan dengan perkembangan teknologi digital dan perubahan sosial serta dipandu oleh moderator dosen Sosiologi FISIP UIN Walisongo yakni Endang Supriadi, M.A.

Wakil Rektor I UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Imam Yahya, M.Ag menekankan pentingnya membekali mahasiswa dengan kemampuan menghadapi perubahan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.

“Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus memiliki kemampuan untuk memahami perubahan, membaca informasi secara kritis, dan menggunakan teknologi untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkap Prof Imam Yahya

Menurut dia, perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam membangun kemampuan mahasiswa agar tidak hanya adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dalam menggunakan ruang digital.

Hal senada disampaikan Dekan FISIP UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Moh. Fauzi, M.Ag. Menurut dia, tema kejahatan digital relevan dengan kehidupan mahasiswa karena ruang digital telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari aktivitas sosial generasi muda.

“Melalui Studium Generale ini, kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teknologi dari sisi penggunaannya, tetapi juga memahami konsekuensi sosial yang muncul. Ruang digital harus dimanfaatkan secara produktif, kritis, dan bertanggung jawab,” ujar Prof Fauzi

Kejahatan Digital dan Manipulasi Media 

Pemateri pertama, Dr. Mohd Shahizan Nor Ali dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), mengangkat persoalan kejahatan digital dan manipulasi media. Dalam paparannya, ia menjelaskan berbagai bentuk kejahatan yang berkembang di ruang digital sekaligus bagaimana media dapat dimanfaatkan untuk memengaruhi persepsi dan perilaku masyarakat.

Perkembangan teknologi digital, kata dia, memang memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam memperoleh dan menyebarkan informasi. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru berupa penyebaran informasi yang menyesatkan, manipulasi media, hingga berbagai bentuk kejahatan siber. Karena itu, masyarakat, terutama generasi muda, dituntut memiliki kemampuan literasi digital yang memadai.

“Generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk memahami informasi, memeriksa kebenarannya, dan tidak langsung menerima setiap informasi yang mereka temukan di ruang digital,” terang Shahizan Ali

Menurut dia, kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena media digital memungkinkan sebuah informasi menyebar dengan sangat cepat dan menjangkau masyarakat dalam jumlah besar. Dalam kondisi tersebut, kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu modal penting agar masyarakat tidak mudah menjadi korban manipulasi informasi maupun berbagai bentuk kejahatan digital.

Pemuda Menghadapi Perubahan Sosial

Sementara itu, pemateri kedua, Dr. Hartati Sulistyo Rini, S.Sos., M.A. dari Universitas Negeri Semarang (UNNES), membahas posisi pemuda di tengah perubahan sosial pada era disrupsi.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah membawa perubahan cepat dalam berbagai aspek kehidupan sosial. Dalam situasi tersebut, pemuda memiliki posisi strategis karena merupakan salah satu kelompok yang paling dekat dengan perkembangan teknologi digital.

“Pemuda tidak hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka memiliki posisi strategis sebagai aktor yang dapat memanfaatkan ruang digital untuk menciptakan perubahan sosial yang positif,” ungkap Hartati

Menurut Hartati, pemuda perlu memanfaatkan ruang digital secara produktif, kritis, dan bertanggung jawab. Kemampuan tersebut penting bukan hanya untuk melindungi diri dari berbagai risiko digital, tetapi juga untuk membangun lingkungan digital yang sehat. Posisi pemuda, lanjutnya, semakin penting karena perubahan teknologi tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga melahirkan berbagai persoalan sosial baru yang membutuhkan respons kritis dari generasi muda.

Mahasiswa Didorong menjadi Pengguna Digital yang Kritis

Studium Generale FISIP UIN Walisongo tersebut menjadi ruang akademik bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai perkembangan kejahatan digital sekaligus memahami posisi pemuda dalam menghadapi perubahan sosial di era disrupsi.

Dekan FISIP UIN Walisongo mengatakan, kegiatan akademik semacam ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan mahasiswa dengan perkembangan persoalan sosial yang berlangsung di luar ruang kelas.

“Mahasiswa perlu mendapatkan ruang untuk berdialog dengan para akademisi dan praktisi yang memahami perubahan sosial dan teknologi. Dengan demikian, pembelajaran di kampus dapat terhubung dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat,” terang Prof Fauzi

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan semakin memiliki kesadaran kritis dalam menggunakan media digital dan mampu mengambil peran positif dalam kehidupan sosial. Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Mahasiswa mengikuti pemaparan materi dan diskusi mengenai berbagai persoalan digital serta tantangan yang dihadapi generasi muda di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Studium Generale itu pada akhirnya tidak hanya membicarakan ancaman kejahatan digital, tetapi juga menempatkan pemuda sebagai bagian penting dari upaya membangun ekosistem digital yang lebih sehat, kritis, produktif, dan bertanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *