Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UIN Walisongo Semarang melakukan benchmarking ke Laboratorium Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Kamis (10/9/2026). Kegiatan yang dihadiri oleh pimpinan fakultas dan pengelola laboratorium tersebut dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama sebagai upaya memperkuat jejaring dan kolaborasi akademik kedua institusi.
Kegiatan benchmarking menjadi momentum bagi Sosiologi FISIP UIN Walisongo untuk mempelajari praktik pengelolaan Laboratorium Sosiologi UNJ, khususnya dalam aspek tata kelola, pengembangan program, serta pemanfaatan laboratorium sebagai ruang pendukung kegiatan akademik. Pertukaran pengalaman ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam mengembangkan laboratorium yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Ketua Laboratorium Sosiologi FISIP UIN Walisongo Semarang, Ririh Megah Safitri, menyampaikan bahwa kegiatan benchmarking memberikan manfaat penting bagi pengembangan kelembagaan laboratorium.
“Akan sangat bermanfaat untuk profiling dan kemandirian laboratorium FISIP UIN Walisongo Semarang” ujar Ririh.
Sementara itu, Kepala Laboratorium Sosiologi UNJ menegaskan bahwa laboratorium memiliki peran strategis dalam membangun budaya akademik.
“Laboratorium adalah ruang yang sangat praktis untuk membangun dialog dan narasi akademik maupun membantu menyusun policy brief,” ungkapnya.
Laboratorium diharapkan tidak hanya menjadi ruang praktikum, tetapi juga menjadi tempat pengembangan gagasan, kajian, dan produksi pengetahuan.
Wakil Dekan II FISIP UIN Walisongo, Dr. Moh Khasan, turut menekankan pentingnya tata kelola laboratorium yang terarah.
“Tata kelola laboratorium yang mampu berkontribusi terhadap dunia pendidikan dan membangun ekosistem akademik yang terintegrasi dan berkelanjutan,” terang Khasan.
Penandatanganan kerja sama antara Sosiologi FISIP UIN Walisongo dan Laboratorium Sosiologi UNJ menjadi bentuk komitmen kedua pihak untuk memperluas kolaborasi. Kerja sama tersebut diharapkan dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan, seperti diskusi akademik, penelitian bersama, pengembangan kapasitas mahasiswa dan dosen, serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Kolaborasi antarkedua institusi juga diharapkan dapat membuka ruang pertukaran pengetahuan dan praktik baik dalam pengembangan laboratorium. Dengan jejaring yang semakin luas, laboratorium dapat berperan lebih optimal dalam mendukung proses pembelajaran sekaligus menjadi ruang pengembangan kompetensi dan kreativitas mahasiswa.
Melalui kegiatan benchmarking dan penandatanganan kerja sama ini, kedua pihak berharap hubungan yang telah terjalin dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan. *Kerja sama tersebut diharapkan memberikan dampak positif terhadap lingkungan akademik, memperkuat kemandirian laboratorium, serta mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang kolaboratif dan berkelanjutan.
